<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: Geertz: His Legacy?</title>
	<atom:link href="http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Thu, 24 Dec 2009 23:11:28 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Madha Adisa Putra</title>
		<link>http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/#comment-1619</link>
		<dc:creator>Madha Adisa Putra</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 11 Dec 2007 15:05:13 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/#comment-1619</guid>
		<description>Apa maksud Geertz tentang Abangan, santri, Priyayi dalam bukunya itu....

kNpa warga Pare tidak introvet dalaM meNjelaskan Abangan, Santri, Priyayi....

dAn kNpa puLa Kontjaraningrat menolak Santri Abangan VS Priyayi.....

Tolong jawabannya....

(Warga Pare-Kediri)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Apa maksud Geertz tentang Abangan, santri, Priyayi dalam bukunya itu&#8230;.</p>
<p>kNpa warga Pare tidak introvet dalaM meNjelaskan Abangan, Santri, Priyayi&#8230;.</p>
<p>dAn kNpa puLa Kontjaraningrat menolak Santri Abangan VS Priyayi&#8230;..</p>
<p>Tolong jawabannya&#8230;.</p>
<p>(Warga Pare-Kediri)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sugeng A</title>
		<link>http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/#comment-748</link>
		<dc:creator>Sugeng A</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 10 Jul 2007 01:58:51 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/#comment-748</guid>
		<description>Saya mengalami hal yang sama dengan anda ketika mencoba mengirimkan satu tulisan ke KOMPAS. Setelah tiga hari, baru muncul jawaban KOMPAS yang mengatakan bahwa tulisan saya tak sesuai dengan kebutuhan media cetak tulis Sekretariat Desk OPINI KOMPAS. Saya kirim ke surat kabar lain, dan diterima serta diterbitkan. Anehnya, pada hari yang sama dengan diterbitkan tulisan saya itu di sebuah surat kabar lain, muncul juga tulisan yang serupa dengan tulisan saya hanya berbeda subjeknya saja dan ditulis oleh seorang dosen UNIKA XXX di Sby. Hmm...apa artinya ini?</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Saya mengalami hal yang sama dengan anda ketika mencoba mengirimkan satu tulisan ke KOMPAS. Setelah tiga hari, baru muncul jawaban KOMPAS yang mengatakan bahwa tulisan saya tak sesuai dengan kebutuhan media cetak tulis Sekretariat Desk OPINI KOMPAS. Saya kirim ke surat kabar lain, dan diterima serta diterbitkan. Anehnya, pada hari yang sama dengan diterbitkan tulisan saya itu di sebuah surat kabar lain, muncul juga tulisan yang serupa dengan tulisan saya hanya berbeda subjeknya saja dan ditulis oleh seorang dosen UNIKA XXX di Sby. Hmm&#8230;apa artinya ini?</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Ema Sutiyati</title>
		<link>http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/#comment-524</link>
		<dc:creator>Ema Sutiyati</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 14 Jun 2007 02:36:04 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/#comment-524</guid>
		<description>Bung Fajar,jangan bersedih, KOMPAS sekarang isi tulisan-tulisan di kolom OPINInya banyak yang kacangan. Anda sudah ditunggu untuk menggantikan Yekti Maunati di PSDR yang masih butuh banyak pertolongan itu. Jangan sampai PSDR jadi Puslit yang tak jelas juntrungannya.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Fajar,jangan bersedih, KOMPAS sekarang isi tulisan-tulisan di kolom OPINInya banyak yang kacangan. Anda sudah ditunggu untuk menggantikan Yekti Maunati di PSDR yang masih butuh banyak pertolongan itu. Jangan sampai PSDR jadi Puslit yang tak jelas juntrungannya.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Harris</title>
		<link>http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/#comment-91</link>
		<dc:creator>Harris</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 30 Jan 2007 08:31:43 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://fithufail.wordpress.com/2006/11/29/geertz-his-legacy/#comment-91</guid>
		<description>Pemikiran Pak Clifford mungkin dikatankan sudah outdated. Tapi tolong di ingat bahwa rasionalisasi terhadap Globalisasi juga haru kita sikapi. Aapakah kita akan menjadie mata rantai proses globalisasi ataukah kita akan menjadi wuyud akhir proses tersebut.

Dalam Globalisasi kita melihat beberapa percontohan yang akan bersebrangan dengan budaya Indonesia ini. Proses meyamakan seluruh bel;ahan dunia dalam suatu tata krama atau sistem sudah pernah dilakukan dan mempunyai dampak perpisahan dunia yang dimaksudkan. Kembalai era sekarang kita bicara hal yang sama dengan pemeriontah tidak melihat kesiapan fabrik rakyat untuk ikut dalam proses globalisasi tersebut. 
kalau di analisa kembali kita mempunyai lebih banyak kerugian daripada keuntungan dalam prosess globalisasi. Lain halnya dengan Negara yang mempunyai hegemonic sphere seperti negara Barat dan Japan, China maupun India. Dimana sumber manusianya sendiri menjadi bahan pertimbangan dgn sendirinya.

Indonesia dengan manusia yang berjumlah 230 juta dan berada dalam posisi sebagaui pengikut dalam proses perdagangan dunia akan membuka kesempatan untuk investasi masuk secara bebas ke dunia Indonesia. Apakah ini membantu atau tidak masih menjdai pertanyaa. 
Dengan ketidak maupuman kita bersaing dari segi tenaga kerja dan keuangan kita akan menjadi provider of raw resources. Tapi kendali yang diperlihatkan oleh Pemerintah dan rakyat kita adalah bahwa kita tidak juga mempunyai kendali dalam menentukan sumber daya alam tersebut juga. 

Dalam banyak kasus semuanya adalah keputusan akhir yang kita terima dan kita dijadikan sumber material yang murah.  Contoh kasus ini sudah cukup banyak sebab selama 30 tahun kita terlena dengan keputasan untuk membelikan hal-hal yang sangat basic tanpa harus memproduksikan barang barang tersebut.

dalam pengembangannya juga kita lihat merosotnya budaya kita dari budajya yang arif penuh denga canda dan tawa menajdi budaya yang bebas dan tidak individualistik. Kata gotong royong tidak muncul lagi, musyawarah utnuk mufakat juga sudah ditinggalkan dengan budaya &quot;AKU&quot; yang lebih tinggi. 

Pancasila yang memwadahi ke majemukan masyarakat kita digantikan dengan hak-azasi rakyat. hak mana yang sapai sekarang tergantung daripada rhetorika dan kemampuan seorang demogogue. 

Freedom of speech yang menghancurkan ke musyawarahan rakyat, dan lebih mementingkan proses kepribadian, dan sekarang secara jelas kita lihat bahwa hal inipun sebenarnya sudah juga dijual oleh pemerintah untukj mendapatkan akses powerd an politik tan[pa melihat kepihakan rakyat Indonesia.

Untuk itu saya rasa kita harus lebih banyak lagi membaca dan meneliti tulisan-tulisan murni seorang sperti Mr Clifford dan paham bahwa negara ini adalah negara yg mempunyai ethnis berbeda dan hanya dapat dipersatukan dengan cara memberikan kewenang mereka untuk menentukan arah hidup negara ini.

Learn from the past for it tells you of the future to come and how to approach them with care.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pemikiran Pak Clifford mungkin dikatankan sudah outdated. Tapi tolong di ingat bahwa rasionalisasi terhadap Globalisasi juga haru kita sikapi. Aapakah kita akan menjadie mata rantai proses globalisasi ataukah kita akan menjadi wuyud akhir proses tersebut.</p>
<p>Dalam Globalisasi kita melihat beberapa percontohan yang akan bersebrangan dengan budaya Indonesia ini. Proses meyamakan seluruh bel;ahan dunia dalam suatu tata krama atau sistem sudah pernah dilakukan dan mempunyai dampak perpisahan dunia yang dimaksudkan. Kembalai era sekarang kita bicara hal yang sama dengan pemeriontah tidak melihat kesiapan fabrik rakyat untuk ikut dalam proses globalisasi tersebut.<br />
kalau di analisa kembali kita mempunyai lebih banyak kerugian daripada keuntungan dalam prosess globalisasi. Lain halnya dengan Negara yang mempunyai hegemonic sphere seperti negara Barat dan Japan, China maupun India. Dimana sumber manusianya sendiri menjadi bahan pertimbangan dgn sendirinya.</p>
<p>Indonesia dengan manusia yang berjumlah 230 juta dan berada dalam posisi sebagaui pengikut dalam proses perdagangan dunia akan membuka kesempatan untuk investasi masuk secara bebas ke dunia Indonesia. Apakah ini membantu atau tidak masih menjdai pertanyaa.<br />
Dengan ketidak maupuman kita bersaing dari segi tenaga kerja dan keuangan kita akan menjadi provider of raw resources. Tapi kendali yang diperlihatkan oleh Pemerintah dan rakyat kita adalah bahwa kita tidak juga mempunyai kendali dalam menentukan sumber daya alam tersebut juga. </p>
<p>Dalam banyak kasus semuanya adalah keputusan akhir yang kita terima dan kita dijadikan sumber material yang murah.  Contoh kasus ini sudah cukup banyak sebab selama 30 tahun kita terlena dengan keputasan untuk membelikan hal-hal yang sangat basic tanpa harus memproduksikan barang barang tersebut.</p>
<p>dalam pengembangannya juga kita lihat merosotnya budaya kita dari budajya yang arif penuh denga canda dan tawa menajdi budaya yang bebas dan tidak individualistik. Kata gotong royong tidak muncul lagi, musyawarah utnuk mufakat juga sudah ditinggalkan dengan budaya &#8220;AKU&#8221; yang lebih tinggi. </p>
<p>Pancasila yang memwadahi ke majemukan masyarakat kita digantikan dengan hak-azasi rakyat. hak mana yang sapai sekarang tergantung daripada rhetorika dan kemampuan seorang demogogue. </p>
<p>Freedom of speech yang menghancurkan ke musyawarahan rakyat, dan lebih mementingkan proses kepribadian, dan sekarang secara jelas kita lihat bahwa hal inipun sebenarnya sudah juga dijual oleh pemerintah untukj mendapatkan akses powerd an politik tan[pa melihat kepihakan rakyat Indonesia.</p>
<p>Untuk itu saya rasa kita harus lebih banyak lagi membaca dan meneliti tulisan-tulisan murni seorang sperti Mr Clifford dan paham bahwa negara ini adalah negara yg mempunyai ethnis berbeda dan hanya dapat dipersatukan dengan cara memberikan kewenang mereka untuk menentukan arah hidup negara ini.</p>
<p>Learn from the past for it tells you of the future to come and how to approach them with care.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
