Posted by: Fadjar Thufail | July 12, 2006

Multiculturalism

From Jurnal Antropologi Indonesia, XXVIII, No. 75, September-Desember 2004

Full Text [PDF] : http://www.jai.or.id/jurnal/2004/75/09fit75.htm

Riot Narrative: Public Sphere, Pragmatism, and (Multi) Cultural Politics

Fadjar I. Thufail

(University of Wisconsin-Madison)

Abstrak

Perdebatan tentang multikulturalisme di Indonesia dipicu oleh kecanggungan teori-teori kebudayaan menghadapi munculnya ledakan ruang publik dengan berbagai macam artikulasi kepentingan etnis, religius, dan sejarah.Oleh karena itu, perbincangan tentang multikulturalisme di Indonesia tak dapat dilepaskan dari percakapan dan perdebatan yang berkembang sejalan dengan makin beragamnya ruang-ruang publik di Indonesia. Dengan kata lain, multikulturalisme sebenarnya harus dilihat sebagai sebuah proses yang terjadi pada ruang-ruang publik, bukan sekedar sebuah kondisi yang menentukan suatu, dan satu-satunya, ruang publik. Sebagai sebuah proses, multikulturalisme bersandar pada negosiasi antar berbagai macam praktik sosial (social practices); sebuah proses politik kebudayaan yang tak selalu—bagi saya, justru tak mungkin—menghasilkan sebuah ruang publik homogen dan setara seperti yang dibayangkan oleh Will Kymlicka.

Berangkat dari pandangan tersebut di atas, tulisan ini mencoba menguraikan satu bentuk praktik sosial yang seringkali dipakai sebagai sebuah wahana artikulasi kepentingan etnis dan religius akhir-akhir ini. Praktik tersebut adalah penuturan kisah (storytelling). Tak seperti pendekatan konvensional dalam antropologi yang melihat kisah/cerita (story) sebagai wadah simbol dan struktur (a symbolic and structural repository), tulisan ini akan memperlakukan cerita sebagai sebuah media material yang dipakai oleh berbagai aktor sosial untuk meramaikan perdebatan politik kebudayaan dalam bermacam-macam ruang publik. Di pihak lain, sering kali cerita juga menjadi wahana untuk mengartikulasikan, atau membentuk, ruang publik itu sendiri.

Secara etnografis, paper ini akan membicarakan sebuah tipe cerita, yaitu narasi tentang kekerasan, lebih khusus lagi yaitu narasi tentang kerusuhan yang pernah meledak di Jakarta. Diharapkan kajian etnografis ini dapat memberikan sebuah contoh tentang kompleksitas yang ada dalam pengertian multikulturalisme sebagai sebuah proses politik (multi)kultural, dan tentang perlunya etnografi mengambil jarak kritis terhadap pandangan multikulturalisme yang sekedar bersandarkan pada bentukan (form) etnisitas dan religius.


Responses

  1. Wah, sorry bung.. coba nanti saya scan essaynya ke PDF dan dimuat diblog ini.

  2. download di jurnal antropologi butuh password yang saya tidak punya. hehehe….saya bukan pengikut multikulturalisme. tapi saya harus tetap memberi ruang kawan-kawan yang mendukungnya.

  3. Silahkan didownload di websitenya Jurnal Antropologi.. Aku tunggu komentarnya, sebagai “pengikut” multikulturalisme, barangkali sampeyan mau challenge? hehehe…

  4. Fadjar, aku jadi tidak sabar pingin baca tulisan anda ini selengkapnya. Sangat menarik. Aku tunggu ya!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: