Posted by: Fadjar Thufail | July 13, 2006

Kekerasan dan Trauma

Published on KOMPAS Daily News

Selasa, 11 Januari 2005
 
 
 
Kekerasan, Bencana, dan Trauma

Oleh Fadjar I Thufail

KORAN ini, tanggal 5 Januari, memuat berita tentang potensi gangguan jiwa yang akan dialami oleh para survivor (orang-orang yang selamat) bencana tsunami di Aceh. Identifikasi kemungkinan gangguan psikologis ini memang sangat tepat, apalagi para pakar psikologi dan psikiatri telah mulai mendeteksi adanya gejala-gejala awal yang mulai tampak di kalangan para survivor tersebut.

Persoalan gangguan jiwa yang dialami oleh para survivor itu-dan dalam skala tertentu juga dapat dialami oleh para relawan-merupakan persoalan nyata yang harus ditangani dengan tepat bersamaan dengan persoalan nyata lain, seperti ketersediaan air bersih, pembangunan perumahan, dan penataan jaringan ekonomi. Gangguan jiwa bisa berlangsung dalam waktu yang lama, mungkin jauh melampaui waktu yang diperlukan untuk menata kembali perekonomian dan prasarana fisik.

Gangguan jiwa yang berlangsung lama ini sering kali tak dapat teramati, kecuali ia menampakkan bentuknya dalam gejala yang sering disebut sebagai sindrom trauma. Seorang psikolog atau psikiater dapat dengan mudah mengenali sindrom trauma ini dan memberikan terapi yang tepat untuk mengatasinya.

Penelitian mutakhir tentang kajian trauma (trauma studies) mulai memahami bahwa trauma bukan semata-mata gejala kejiwaan yang bersifat individual. Trauma muncul sebagai akibat dari saling keterkaitan antara ingatan sosial dan ingatan pribadi tentang peristiwa yang mengguncang eksistensi kejiwaan. Dalam konteks Aceh, kompleksitas sosial dan kultural ini sangat penting mengingat bahwa masyarakat Aceh telah mengalami dan menjadi saksi berbagai macam kekerasan sejak berlangsungnya operasi keamanan di daerah ini. Oleh karena itu, pemahaman tentang trauma sebagai proses sosial dan sekaligus proses kejiwaan yang bersifat personal mutlak diperlukan untuk mencari jalan keluar dari lingkaran ingatan traumatis yang dialami oleh banyak orang Aceh.

Dengan kata lain, untuk memahami kompleksitas trauma di Aceh-dan di beberapa daerah yang pernah dilanda konflik dan bencana besar-diperlukan juga keterlibatan antropolog dan sosiolog yang memahami soal trauma di samping tentunya para pakar psikologi dan psikiatri. Kajian mutakhir trauma ini menekankan perlunya pendekatan lintas disiplin.

MESKIPUN agak sulit, dan barangkali tak pantas, membandingkan antara satu bencana kemanusiaan dan bencana lainnya, situasi di Aceh ini barangkali dapat disejajarkan dengan peristiwa Holocaust saat jutaan kaum Yahudi dibantai oleh rezim Nazi Jerman. Holocaust juga meninggalkan persoalan trauma yang berdampak sangat lama. Pada tahun 1980-an, saat para psikiater dari Yale melakukan pengumpulan testimoni dari para survivor Holocaust, sebagian dari survivor ini masih memperlihatkan gejala trauma yang terekam secara mengesankan dalam film dokumenter Shoah yang dibuat oleh Claude Lanzmann.

Kajian tentang Holocaust ini langsung menjungkirbalikkan pandangan klasik- sering dipakai dalam kajian Post Traumatic Stress Disorder-bahwa trauma memiliki rentang waktu tertentu. Menariknya, Sigmund Freud sendiri pernah mengemukakan bahwa trauma adalah suatu ingatan yang direpresi. Dan, karena direpresi itulah maka trauma sering berlangsung secara tidak sadar dalam periode yang cukup lama. Guncangan psikologis yang disebabkan oleh ingatan mengerikan tentang gelombang tsunami, tentang mayat-mayat yang berserakan, dan tentang kehilangan banyak anggota keluarga sekaligus berpotensi untuk membentuk ingatan yang traumatis.

Situasi sosial yang pernah dialami masyarakat Aceh membuat persoalan trauma menjadi sangat kompleks sehingga harus disikapi secara sangat hati- hati. Ingatan tentang korban tsunami bercampur aduk dengan ingatan tentang korban kekerasan perang di Aceh, membentuk beberapa lapisan trauma yang saling menutupi. Selain itu, pernyataan yang selalu disampaikan oleh pihak GAM maupun pemerintah bahwa Aceh berada dalam keadaan “darurat” ikut membentuk kesadaran traumatis di kalangan masyarakat Aceh bahwa kekerasan selalu mengancam mereka.

Sebagai sebuah konteks, pengalaman sejarah kekerasan di Aceh harus dipertimbangkan dan tak boleh dilupakan sebagai salah satu faktor pembentuk trauma. Oleh karena itu, pemahaman dan penanganan pascabencana tsunami harus memperhitungkan pengaruh-pengaruh sosial yang mungkin memperburuk situasi traumatis masyarakat Aceh. Penghapusan keadaan “darurat” adalah salah satu di antaranya, dan kesadaran dari pihak GAM juga diperlukan untuk menghentikan tekanan-tekanan terhadap masyarakat sipil Aceh.

Kajian trauma juga menggarisbawahi proses yang dalam studi psikologi sering disebut sebagai transference. Istilah ini merujuk pada “transfer” pengalaman traumatis yang terjadi dari orang yang secara fisik langsung mengalami peristiwa yang mengerikan kepada orang lain yang tak secara langsung mengalaminya. Freud memberi contoh bahwa psikoanalis juga dapat mengalami proses trans- ference saat ia secara tak sadar melakukan identifikasi dengan korban trauma tersebut. Dori Laub, psikiater yang terlibat dalam pembuatan Shoah, me- ngatakan bahwa transference itu bisa terjadi saat psikoanalis, atau siapa pun juga yang melakukan wawancara dengan korban, “melihat” peristiwa yang mengerikan itu melalui narasi yang diceritakan oleh korban.

Relawan kemanusiaan yang terjun ke Aceh dan melihat mayat-mayat secara langsung atau ikut menangani korban-korban yang selamat juga rentan terhadap trauma. Memang agak disayangkan bahwa relawan kemanusiaan di Indonesia jarang, atau bahkan hampir tak pernah, mendapat pelatihan khusus untuk menghadapi situasi yang sangat traumatis. Keterlibatan mereka kebanyakan didorong oleh rasa kemanusiaan yang dalam, tetapi tanpa menyadari bahwa benturan langsung dengan peristiwa yang mengerikan juga dapat berdampak pada situasi kejiwaan mereka. Relawan-relawan ini berisiko mengalami transference, dan bila tak diantisipasi atau ditangani secara tepat, akan menjadi bagian dari masyarakat yang mengalami trauma. Pemikiran jangka panjang dan menyeluruh untuk menangani situasi pascatsunami harus juga memasukkan faktor secondary trauma semacam ini.

SEPERTI dikemukakan di atas, trauma bukan semata-mata persoalan kejiwaan individual. Struktur sosial, kekuasaan politik, dan nilai kebudayaan juga merupakan faktor-faktor yang memperlama trauma, te- tapi juga dapat dipakai sebagai konteks untuk penyelesaian trauma. Oleh karena itu, trauma tak dapat hanya ditangani oleh psikolog dan psikiater-mereka yang lebih pandai menganalisis situasi kejiwaan individual- tetapi juga harus melibatkan antropolog dan sosiolog yang dapat mengidentifikasi faktor- faktor sosial, kultural, dan politik yang memperumit atau mempermudah penyelesaian ingatan traumatis individu maupun kolektif. Trauma pada dasarnya adalah ingatan peristiwa masa lalu yang mengerikan yang ditampakkan dalam, dan direpresi oleh, mediasi kultural dan sosial.

Seperti halnya peristiwa Holocaust, bencana alam di Aceh dapat mencetak ingatan traumatis yang berlangsung sangat lama. Pengalaman masa lalu, kekerasan di Aceh, telah menjadikan masyarakat Aceh rentan terhadap pengaruh trauma yang sangat kompleks. Pengelolaan pascabencana alam tsunami tak boleh melupakan bahwa orang Aceh bukanlah masyarakat yang tak pernah tersentuh oleh peristiwa traumatis kolektif.

Terapi psikologis harus peka pada kenyataan bahwa kehilangan (loss) bagi masyarakat Aceh bukan semata-mata disebabkan oleh bencana alam tsunami, tetapi juga oleh konflik bersenjata yang berkepanjangan. Salah satu “terapi” yang mungkin dilakukan adalah membiarkan orang-orang Aceh untuk mencari kedamaian dengan masa lalu mereka yang penuh kekerasan.


Responses

  1. saya sangat tertarik dengan PTSD, apakah masih ada artikel tentag PTSD trimakasih….

  2. hallo nama saya dyah, saya sedang mencoba menulis skripsi yang berkaitan dengan trauma sosial dan individual yang diakibatkan oleh teror negara, boleh saya tau sumber dari tulisan anda yang menarik ini. terutama hasil riset mengenai kajian trauma yang anda bahas pada alinea 2 atau sumber-sumber lain yang membagas tentang tema tersebut.
    trimaksih🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: