Posted by: Fadjar Thufail | November 29, 2006

Geertz: His Legacy?

I submitted this writing as an op-ed essay to Kompas Daily Newspaper one day after Geertz passed away. As usual, Kompas rejected this piece, arguing that what I wrote in the essay was an outdated topic. “Nothing new”, the rejection letter said. Interestingly enough, and for me surprisingly ironic, Kompas is planning to hold a symposium talking about Clifford Geertz and his legacy in Indonesia. Therefore, I decide to put this rejected essay on this blog [unfortunately, it is in Indonesian] for the public to see whether or not there is “nothing new” in the writing, and, most importantly, to let you know that Kompas’s initiative to discuss the legacy of Geertz is in fact “nothing new.”

 

Clifford Geertz: Sebuah Obituari

Fadjar I. Thufail

Hari Selasa pagi (31/10) waktu Amerika Bagian Timur, di Princeton telah berpulang salah seorang tokoh besar ilmu sosial, Clifford Geertz. Kepergian Pak Cliff, demikian dia sering dipanggil, menambah deretan ilmuwan ahli Indonesia yang telah pergi meninggalkan warisan pemikiran besar bagi generasi muda penerus. Sampai akhir hayatnya, Pak Cliff adalah profesor emeritus di Institute for Advanced Study di Princeton, sebuah lembaga penelitian yang pernah menjadi rumah bagi para pemikir besar seperti Albert Einstein. Pak Cliff adalah salah seorang generasi pertama Indonesianis yang selalu menaruh perhatian besar tentang perkembangan yang terjadi di Indonesia. Ia memang tak pernah memiliki murid dari Indonesia, tak seperti Indonesianis lain misalnya Daniel Lev atau Benedict Anderson yang telah menghasilkan banyak anak didik dari Indonesia. Tetapi, perhatian Pak Cliff yang besar terhadap Indonesia sangat mempengaruhi perkembangan diskursus ilmu sosial di negeri ini.

Sebelum bergabung dengan Institute for Advanced Study, Pak Cliff mengajar di Universitas Chicago, sebagai profesor antropologi dan kajian perbandingan negara-negara baru. Ia pernah mengajar sebagai profesor tamu di Universitas Oxford, dan sejak 1975 sampai 2000, ia menjadi profesor tamu di Universitas Princeton yang kampusnya hanya berjarak sekitar 2 kilometer dari Institute for Advanced Study. Tahun 2000, Pak Cliff pensiun dari Institute for Advanced Study, tetapi tidak mengurangi produktifitasnya untuk terus menulis.

Sumbangan Pak Cliff terhadap dunia pemikiran ilmu sosial sangatlah besar, tak dapat dirangkum dalam sebuah tulisan pendek. Ia mulai menekuni kajian Indonesia sejak menjadi mahasiswa antropologi di Universitas Harvard, dan penelitian lapangannya di Pare, Jawa Timur, pada tahun 1950an menjadi buku yang kontroversial tapi banyak dikutip orang sebagai salah satu karya pertama tentang Islam di Indonesia, The Religion of Java. Sejak itu, Pak Cliff, bersama istrinya saat itu, Hildred Geertz, banyak melalukan kajian perbandingan antara Islam di Indonesia dan Maroko.

Pemikiran teoritis Pak Cliff merambah ke berbagai dimensi, dan sejalan dengan berkembangnya teori sosial, pemikiran Pak Cliff juga selalu mencoba menemukan wilayah-wilayah teoritis baru. Salah satu terobosan Clifford Geertz dalam teori sosial adalah anjurannya untuk mengembangkan pendekatan interpretasi dalam kajian sosial, politik, dan kebudayaan. Meskipun pertama kali berkembang sebagai pendekatan alternatif dalam disiplin antropologi saat itu yang mengandalkan perspektif relativisme kebudayaan atau strukturalisme, kajian interpretatif saat ini mulai dipakai dalam berbagi disiplin ilmu lain. Terobosan pendekatan interpretif Pak Cliff dapat disarikan dalam dua hal. Pertama, interpretasi haruslah berdasarkan “deskripsi tebal” (thick description) gejala atau peristiwa sosial. Kedua, tujuan akhir interpretasi adalah menemukan dan memahami pandangan, keyakinan, dan penjelasan aktor sosial dari perspektif aktor itu sendiri. Tujuan ini hanya bisa dicapai apabila peneliti dapat menjalin hubungan yang erat dengan masyarakat yang ditelitinya. The Interpretation of Culture adalah karya magnum opus Clifford Greetz yang memperlihatkan pemanfaatan pendekatan interpretif dalam memahami gejala sosial yang beragam, dari politik hingga seni.

Salah satu karya Pak Cliff yang sering dianggap sebagai penerapan yang sangat indah metode “deskripsi tebal” adalah etnografi dia tentang sabung ayam di Bali. Dalam etnografi yang sangat rinci ini, Clifford Geertz membuktikan bahwa dengan pengamatan yang sangat jeli terhadap sebuah peristiwa sabung ayam, seorang peneliti dapat mempelajari tentang berbagai hal mulai dari nilai simbolis, aspek jender masyarakat Bali, kekerasan, dan bahkan politik negara. Sampai saat ini, etnografi ini masih sering dipakai di kelas-kelas sebagai contoh metode “deskripsi tebal” yang terbaik.

Terlepas dari sumbangan luar biasa Pak Cliff terhadap teori sosial dan kajian Indonesia, ada sebuah anekdot kecil yang memperlihatkan ambiguitas hubungan sosial Pak Cliff dengan masyarakat yang pernah ditelitinya. Salah satu tokoh utama dalam buku The Religion of Java adalah seorang dokter di Pare yang menjadi responden Pak Cliff. Anak sang dokter kemudian mendapat kesempatan belajar ke Amerika. Sang anak, yang bernama Mahar Mardjono (kelak menjadi Rektor UI), mendapat titipan sebuah wayang kulit dari Clifford Geertz untuk disampaikan pada temannya. Bahkan, menurut cerita almarhum Mahar Mardjono kepada saya, Pak Cliff sempat datang sendiri mengantarkan wayang itu ke rumahnya. Sekitar tiga puluh tahun setelah peristiwa di Pare itu, saya mendapat kesempatan bertemu dengan Pak Cliff di Princeton dan secara sepintas sempat menanyakan tentang peristiwa itu. Tetapi, alih-alih mengingat kejadian itu, Pak Cliff tampak agak enggan bercakap-cakap tentang peristiwa sehari-hari saat ia melalukan penelitian di Pare. Sikap Pak Cliff ini sampai kini menimbulkan pertanyaan di benak saya. Mengingat bahwa penelitian di Pare yang menghasilkan The Religion of Java itu adalah salah satu karya terbaik Clifford Geertz yang mengantarkan dia sebagai Indonesianis terkemuka, agak sulit dipahami apabila Pak Cliff lupa terhadap orang-orang yang pernah ditelitinya. Salah satu penjelasan yang mungkin bisa dikemukakan dapat ditarik dari kritik terhadap pendekatan interpretif Geertz. Pendekatan interpretif Geertz membingkai interpretasi dari politik dan perasaan, sehingga barangkali bagi Pak Cliff relasi sosial di lapangan harus dibedakan dari relasi sosial setelah penelitian lapangan berakhir.

Seorang pemikir besar memang bukan seorang yang sempurna, dan Pak Cliff tampaknya menyadari hal ini. Penelitian terakhir dia tentang keanekaragaman etnis dan dampaknya terhadap modernitas memperlihatkan posisi kritis Geertz terhadap perspektif posmodernisme yang cenderung melupakan persoalan identitas. Akhir-akhir ini, Pak Cliff memang tak pernah lagi menulis secara khusus tentang Indonesia. Ia pernah mengatakan pada saya sepuluh tahun yang lalu bahwa kecintaannya terhadap kajian Indonesia sedikit terganggu oleh kemampuan bahasa Indonesianya yang sudah jauh menurun. Tetapi, sumbangan Pak Cliff jauh melampaui bahasa. Ia memberikan pencerahan pada kita bahwa teori harus bermula dari pemahaman mendalam tentang peristiwa dan masyarakat. Indonesia pantas berbangga pernah memberikan sumbangan untuk pemikiran-pemikiran besar yang lahir dari seorang Clifford Geertz. Selamat jalan Pak Cliff…..


Responses

  1. Apa maksud Geertz tentang Abangan, santri, Priyayi dalam bukunya itu….

    kNpa warga Pare tidak introvet dalaM meNjelaskan Abangan, Santri, Priyayi….

    dAn kNpa puLa Kontjaraningrat menolak Santri Abangan VS Priyayi…..

    Tolong jawabannya….

    (Warga Pare-Kediri)

  2. Saya mengalami hal yang sama dengan anda ketika mencoba mengirimkan satu tulisan ke KOMPAS. Setelah tiga hari, baru muncul jawaban KOMPAS yang mengatakan bahwa tulisan saya tak sesuai dengan kebutuhan media cetak tulis Sekretariat Desk OPINI KOMPAS. Saya kirim ke surat kabar lain, dan diterima serta diterbitkan. Anehnya, pada hari yang sama dengan diterbitkan tulisan saya itu di sebuah surat kabar lain, muncul juga tulisan yang serupa dengan tulisan saya hanya berbeda subjeknya saja dan ditulis oleh seorang dosen UNIKA XXX di Sby. Hmm…apa artinya ini?

  3. Bung Fajar,jangan bersedih, KOMPAS sekarang isi tulisan-tulisan di kolom OPINInya banyak yang kacangan. Anda sudah ditunggu untuk menggantikan Yekti Maunati di PSDR yang masih butuh banyak pertolongan itu. Jangan sampai PSDR jadi Puslit yang tak jelas juntrungannya.

  4. Pemikiran Pak Clifford mungkin dikatankan sudah outdated. Tapi tolong di ingat bahwa rasionalisasi terhadap Globalisasi juga haru kita sikapi. Aapakah kita akan menjadie mata rantai proses globalisasi ataukah kita akan menjadi wuyud akhir proses tersebut.

    Dalam Globalisasi kita melihat beberapa percontohan yang akan bersebrangan dengan budaya Indonesia ini. Proses meyamakan seluruh bel;ahan dunia dalam suatu tata krama atau sistem sudah pernah dilakukan dan mempunyai dampak perpisahan dunia yang dimaksudkan. Kembalai era sekarang kita bicara hal yang sama dengan pemeriontah tidak melihat kesiapan fabrik rakyat untuk ikut dalam proses globalisasi tersebut.
    kalau di analisa kembali kita mempunyai lebih banyak kerugian daripada keuntungan dalam prosess globalisasi. Lain halnya dengan Negara yang mempunyai hegemonic sphere seperti negara Barat dan Japan, China maupun India. Dimana sumber manusianya sendiri menjadi bahan pertimbangan dgn sendirinya.

    Indonesia dengan manusia yang berjumlah 230 juta dan berada dalam posisi sebagaui pengikut dalam proses perdagangan dunia akan membuka kesempatan untuk investasi masuk secara bebas ke dunia Indonesia. Apakah ini membantu atau tidak masih menjdai pertanyaa.
    Dengan ketidak maupuman kita bersaing dari segi tenaga kerja dan keuangan kita akan menjadi provider of raw resources. Tapi kendali yang diperlihatkan oleh Pemerintah dan rakyat kita adalah bahwa kita tidak juga mempunyai kendali dalam menentukan sumber daya alam tersebut juga.

    Dalam banyak kasus semuanya adalah keputusan akhir yang kita terima dan kita dijadikan sumber material yang murah. Contoh kasus ini sudah cukup banyak sebab selama 30 tahun kita terlena dengan keputasan untuk membelikan hal-hal yang sangat basic tanpa harus memproduksikan barang barang tersebut.

    dalam pengembangannya juga kita lihat merosotnya budaya kita dari budajya yang arif penuh denga canda dan tawa menajdi budaya yang bebas dan tidak individualistik. Kata gotong royong tidak muncul lagi, musyawarah utnuk mufakat juga sudah ditinggalkan dengan budaya “AKU” yang lebih tinggi.

    Pancasila yang memwadahi ke majemukan masyarakat kita digantikan dengan hak-azasi rakyat. hak mana yang sapai sekarang tergantung daripada rhetorika dan kemampuan seorang demogogue.

    Freedom of speech yang menghancurkan ke musyawarahan rakyat, dan lebih mementingkan proses kepribadian, dan sekarang secara jelas kita lihat bahwa hal inipun sebenarnya sudah juga dijual oleh pemerintah untukj mendapatkan akses powerd an politik tan[pa melihat kepihakan rakyat Indonesia.

    Untuk itu saya rasa kita harus lebih banyak lagi membaca dan meneliti tulisan-tulisan murni seorang sperti Mr Clifford dan paham bahwa negara ini adalah negara yg mempunyai ethnis berbeda dan hanya dapat dipersatukan dengan cara memberikan kewenang mereka untuk menentukan arah hidup negara ini.

    Learn from the past for it tells you of the future to come and how to approach them with care.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: