Posted by: Fadjar Thufail | January 16, 2008

Etnografi, Realisme, Fiksi

Published in Koran Tempo, 28 July 2002

Etnografi, Realisme, Fiksi

Fadjar I. Thufail

Sejak lima dekade yang lalu, para antropolog telah memanfaatkan etnografi sebagai wahana untuk menuangkan pengalaman dan kajian mereka. Etnografi menjadi sebuah cara yang dianggap paling tepat untuk menggambarkan realitas masyarakat yang diteliti. Dalam tradisi kajian antropologi klasik, etnografi menjadi “jembatan” antara pemikiran teoritis dan realitas kehidupan sehari-hari tangkapan sang antropolog. Tradisi semacam ini meletakkan etnografi sebagai “realitas ketiga”, yakni realitas tulis yang berada di luar realitas subyektif penulis dan realitas obyektif yang dituliskan.

Namun saat ini, etnografi, sebagai sebuah metode dan tulisan, mulai sering dimanfaatkan oleh kajian budaya (cultural studies), kritik sastra, sastra bandingan, sejarah, dan berbagai disiplin lainnya. Bahkan, etnografi tak lagi menjadi sebuah metode asing di kalangan para pembuat film, terutama mereka yang bergerak di bidang film dokumenter atau mereka yang sekedar ingin menonjolkan corak realisme dalam karya mereka.

Tetapi, pemanfaatan metode dan tulisan etnografi yang semakin meluas itu telah memunculkan kegamangan sangat dalam di kalangan para penganut gaya etnografi klasik, yaitu para antropolog yang berpendapat bahwa etnografi bukan sekedar karya tulisan, tetapi juga yang harus mematuhi kaidah “ilmiah”. Jika plot dan struktur menjadi prinsip baku penulisan sebuah novel, obyektifitas dan pembenaran empiris menjadi tulang punggung yang menentukan apakah sebuah tulisan dapat dikategorikan sebagai “etnografis.”

Maka ketika etnografi dipakai sebagai alat kajian dan representasi hal-hal yang dianggap bersifat “tidak obyektif” dan “tidak empiris” — misalnya bila metode etnografi dipakai untuk mengkaji dan menulis sebuah fiksi atau novel — para etnograf klasik mengatakan bahwa telah terjadi sebuah krisis representasi dalam seluruh bangunan antropologi sebagai ilmu sosial. Antropologi kini telah “disastrakan”, kata mereka.

Etnografi moderen mencapai titik puncaknya kala Bronislaw Malinowski menerbitkan karya besarnya Argonauts of the Western Pacific, sebuah karya etnografi yang dianggap nyaris sempurna. Buku tebal ini merupakan laporan hasil penelitian Malinowski tentang sistem pertukaran di Kepulauan Trobriand. Kekuatannya terletak pada cara penulisannya yang sangat realis sehingga pembaca seolah-olah diajak mengikuti ekspedisi kula, yaitu pelayaran masyarakat setempat dari satu pulau ke pulau lain.
Argonauts sering diajukan sebagai contoh bahwa seorang etnograf bisa menghasilkan sebuah karya bagus tanpa harus mengorbankan prinsip obyektifitas dan empiris dalam penulisan ilmu sosial.

Sekitar tiga puluh tahun setelah Argonauts — yakni pada tahun 1960-an — terbitlah sebuah buku Malinowski lain, A Diary in Its Strictest Sense of the Term yang menggemparkan dunia antropologi. Seperti tampak dalam judulnya, buku ini merupakan catatan harian Malinowski yang ditulis saat ia melakukan penelitian di Trobriand, dan baru diterbitkan setelah ia meninggal. Penerbitan Diary menampar muka para antropolog karena catatan harian Malinowski ini dengan jelas memperlihatkan bahwa ia kemungkinan besar tak pernah mengikuti ekspedisi kula dan sebagian besar deskripsinya tentang tradisi itu hanya diperoleh dari informasi masyarakat setempat.

Pada mulanya, banyak orang yang meragukan keaslian Diary, karena gambaran tentang kula di dalam Argonauts sangatlah rinci dan menciptakan imaji yang sangat kuat sehingga tampaknya tak mungkin apabila Malinowski menuliskannya dengan hanya berdasarkan informasi dan bukan dari pengalaman sendiri. Namun setelah salah seorang keluarga Malinowksi membenarkan bahwa catatan harian itu memang ditulis Malinowski, maka orang berpaling dari perdebatan tentang keaslian ke arah perdebatan tentang penulisan etnografi itu sendiri.

Perlu diingat bahwa Argonauts ditulis pada tahun 1930-an, saat modernisme secara kuat mempengaruhi gaya penulisan sastra. Penulisan gaya realis adalah salah satu elemen modernisme yang populer saat itu. Zora Neale Hurston, seorang antropolog Amerika yang beralih menjadi penulis, juga banyak menggabungkan prinsip realisme dan etnografis dalam karya fiksinya tentang praktik voodo di Haiti.

Prinsip realisme dalam penulisan dicapai melalui pemisahan antara penggambaran realitas — realitas tokoh maupun realitas alam — dan peran penulis yang tugasnya hanya merepresentasikan realitas itu dalam narasi. Pada masa puncak gerakan modernisme, belum ada kesadaran kritis bahwa pemilihan sebuah aspek realitas yang akan ditonjolkan dalam narasi sebenarnya merupakan fungsi atau subjektifitas sang pengarang. Oleh karena itu, pendekatan realisme sangat cocok untuk penulisan etnografi klasik karena etnografi realis semacam itu dianggap berhasil “mematikan” subjektifitas pengarang. Dalam hal ini sang etnograf atau antropolog dituntut untuk selalu bersikap “obyektif.”

Penerbitan Diary benar-benar menggoyah pandangan bahwa sebuah etnografi bersifat realis murni. Di pihak lain, pendekatan kritis menunjukkan bahwa etnografi juga bukan sebuah fiksi karena peristiwa atau konteks lingkungan yang direpresentasikan dalam narasi etnografi adalah situasi yang benar-benar terjadi. Apabila pandangan antropologi pascamodernis mengatakan bahwa semua etnografi adalah karya fiksi karena semata-mata merupakan refleksi si penulis, maka pandangan antropologi kritis mengakui bahwa sebuah etnografi pasti mencerminkan subyektifitas si penulis, yakni subyektifitas yang mempengaruhi pemilihan dan penafsiran realitas yang dijelmakan dalam narasi etnografi.

Dengan kata lain, narasi etnografi selalu bersifat kontekstual, dalam arti selalu terkait dengan subyektifitas dan kemungkinan-kemungkinan representasi yang ditawarkan oleh realitas itu sendiri.

Beberapa antropolog saat ini sudah mulai mencoba menerapkan perspektif etnografi kritis untuk menghasilkan etnografi yang lebih menonjolkan sisi manusiawi. Kirin Narayan, Paul Stoller, dan Keith Basso, adalah beberapa contoh antropolog yang meminjam teknik penulisan fiksi untuk menyusun etnografi tentang seseorang atau sebuah kelompok sosial. Meskipun meminjam teknik penulisan fiksi, karya mereka tidak sama dengan fiksi. Narasi etnografi mereka diciptakan melalui teknik dasar penulisan fiksi, seperti penggunaan sudut pandang, teknik dialog, deskripsi yang bersifat alegoris atau realis, dan, kadang-kadang, pemanfaatan plot cerita.

Meskipun demikian, tokoh-tokoh, situasi yang digambarkan, maupun kata-kata yang menyusun dialog, semuanya nyata dan bukan diciptakan oleh penulis/antropolog. Dalam pengertian ini, etnografi kritis mirip dengan pendekatan jurnalisme sastra (literary journalism).

Etnografi kritis adalah jawaban terhadap kegamangan antropologi yang dituntut untuk mulai dapat bercerita secara memukau tetapi pada saat yang sama mempertahankan unsur-unsur realisme yang menjadi syarat sebuah kajian ilmu sosial. Saat ini, pandangan yang menempatkan narasi fiksi dan narasi tulisan ilmiah sebagai dua hal yang tak bisa disatukan, sudah mulai dipertanyakan. Sudah mulai diragukan pula pandangan yang membedakan fiksi sebagai sebuah karya seni dan etnografi sebagai sebuah karya ilmiah.

Sebuah karya ilmiah dapat mencerminkan ketrampilan sang penulisnya dengan penggunaan teknik-teknik narasi yang memukau dan indah. Etnografi kritis menawarkan sebuah bentuk representasi realitas yang menarik tanpa harus terjebak pada kegenitan pascamodernisme yang menganggap semua realitas telah mati.


Responses

  1. Saya erna, pascaantropologi ui

    Wah asyiknya bisa sharing ethnografi, tapi adanya critical aethonography dan banyaknya referensi buat saya juga masih bingung gaya etnografi yang akan saya pilih untuk tesis saya.

    ada sarankah?

  2. slmt pagi & salam kenal. Nama sy : Thomas. Sy di Masohi (ibu kota Kab. Maluku Tengah) / Pulau Seram. Saya sangat tertarik dgn tulisan anda. Saat ini sy sdg mmpelajari etnografi. Utk itu sy mhn bantuan anda utk menginfokan penelitian etnografi & hasil2 penelitian etnografi melalui email sy. Terima kasih !

  3. saya, termasuk orang yang masih awam mengenai etnografi, tapi setelah mengetahui dan membaca beberapa tulisan di blog-blog maupun web saya menjadi sedikit tahu,,
    namun ketika saya kuliah ada juga pembahasan mengenai etnografi,pada mata kuliah metodologi penelitian,,

    saya sangat kurang memahami bagaimana kaitannya etnografi dengan penelitian
    apakah ada perbedaam jika etnografi diterapkan pada penelitian

    Saya harap anda dapat meberi sedikit pemahaman kepada saya,,,
    terimak kasih,,,

  4. Saya dari antropolog UNHAS Makassar.
    Etnografi meruapakan gambaran tentang suku-suku bangsa yang ada yang di dunia di mana masing memiliki ciri khas tersendiri, namun para kalangan antropologi harus mengetahui keterkaitan unsur-unsur kebudayaan yang nanti dapat di rekontruksi menjadi sebuah etnografi holistik,

    Saya, cuman ingin memberitau bagi Antropologi indonesia tetaplah berkarya membuat etnografi, suatu saat pasti akan membuat hasil bagi si…… peneliti itu

  5. Saya dari antropolog UNHAS Makassar.
    Etnografi meruapakan gambaran tentang suku-suku bangsa yang ada yang di dunia di mana masing memiliki ciri khas tersendiri, namun para kalangan antropologi harus mengetahui keterkaitan unsur-unsur kebudayaan yang nanti dapat di rekontruksi menjadi sebuah etnografi holistik,

    Saya, cuman ingin memberitau bagi Antropologi indonesia tetaplah berkarya membuat etnografi pasti akan membuat hasil bagi si…… peneliti

  6. bang fajar salamat sore
    Salam Kenal, efelin di ambon.
    Saya seorang guru. saya masih awam dengan aetnografi. Saya tahu sedikit tentang etnografi. bolehkah saya berdiskusi dengan bang fajar via email. saya ingin berdiskusi tentang etnografi indonesia.

    trima kasi bang

  7. etnogarafi sastra kayaknya menarik!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

  8. Ingin tahu kegunaan Etnografi dalam dunia Design?

    coba Lihat di sebuah workshop, info:
    http://www.edw2009.ft.ugm.ac.id

  9. remember me mate? a brown-skinned guy living in Yogya and working as an English teacher. So, you are in the US now. Great! keep up the fantastic works. cheers

  10. Thank you very much on your contribution to the Papuan Ethnographical Studies in The Future. Please you support me for my Research with the thopic ” Studi Etnografi Kabupaten Sorong Selatan” it conducted in January 2009. I hope your suppport of some books likes: Maluku-Irian Jaya, Belanda di Irian Jaya and so on.
    Please you call me through Mobile: 081248441194\
    Address Yayasan OYO PAPUA , Kampung Wernas Teminabuan

  11. saya benar-benar terkesan dengan tulisa yang anda tulis tentang antropologi

  12. Mas Fadjar

    Tulisan ini bagus dan cukup komplit sebagai fenomena kognitif yang informatif. Hal penting yang harus benar-benar diyakini setiap etnografer adalah Etnogarafi adalah sebuah “sudut pandang yang universal” yang bisa menyentuh ranah apa saja sebagai representasi sebuah realitas, selama tidak keluar dari objek manusia, baik secara personal maupun kelompok.

    Salam etnos…..

  13. saya adalah peneliti antropologi dari papua dan saya memiliki banyak bahan-bahan penelitian etnografi tentang suku-suku di papua, hanya kira-kira bagaimana caranya saya dapat medistribusikan tulisan saya secara baik agar dapat bermanfaat bagi orang-orang yang berminat untuk mengenal etnografi papua dan kehidupan culturalnya. saya berharap kerjasama kita yang baik dapat terjalin melalui surat saya yang pertama ini. alamat email saya : (habel_samakori@yahoo.co.id) no.kontak saya 08124859662. saya tunggu ya info kerjasamanya. “nai pimbo ta do raruko” (sampai berjumpa lagi : dalam bahasa orang Waropen, pesisir utara Papua)

  14. salam kenal.
    saya sedang mengerjakan skripsi dengan metode etnografi, mengenai kehidupan malam di taman fatahillah (kompleks kota tua -museum fatahillah- di jakarta). saya sangat tertarik dengan tulisan yang anda buat.
    apakah saya boleh mengirim email untuk berdiskusi?

  15. Saya masih sangat awam dengan tema antropologi, tapi beberapa hal saya ingin mendapatkan kejelasan yang lebih jauh.
    1. etnografi yang dihasilkan adalah pengetahuan esensial penulis atas venomena yang diangkat. bukankah subjek memberi presentasinya pada objek subjektif? dan apakah objekif (luaran) hanya aksidental bagi pengetahuan subjek…
    2. Sangat disayangkan jika presentasi dipengaruhi ketidak jelasan posisi subjek dalam yang di presentasikan. bagaimana sebuah fakta dapat dikenali secara sebenar setelah dikomunikasikan?

    Vendra Dj
    cahaya.benings@gmail.com

  16. Bung Fajar Thufail….

    Saya sungguh terinspirasi saat membaca beberapa tulisan anda tentang antropologi. saya Yusran Darmawan, tinggal di Pulau Buton, Sulawesi Tenggara, ingin sekali menjadi sahabat anda. saya ingin sekali diskusi banyak hal melalui email. saya ingin sekali menulis etnografi tentang kekerasan di kampung saya. apakah kita boleh diskusi melalui email?

    Yusran Darmawan
    (timurangin@yahoo.com)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: